Dinas kesehatan Kabupaten Pandeglang melaksanakan rapat koordinasi lintas sektor  desa bebas jentik aedes tingkat Kabupaten pada hari Rabu 27/7/2022.

Demam berdarah dengue (DBD)  bisa menyerang siapa saja, baik yang tua atau muda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar setengah dari populasi manusia di dunia beresiko terkena penyakit ini. Indonesia termasuk negara rawan DBD dengan catatan kasus yang cukup tinggi.

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegepty, gejala DBD muncul biasanya sekitar 4 – 15 hari setelah gigitan nyamuk. Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab meningkatnya kasus DBD adalah ; musim hujan yang lama, karena banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk aedes, daya tahan tubuh yang lemah, buang sampah sembarangan yang akan menjadi tempat bertelurnya nyamuk aedes, jarang menguras bak mandi, gemar menumpuk baju kotor dirumah,  pergi kedaerah yang banyak kasus demam berdarah.

Menindak lanjuti surat keputusan Bupati Pandeglang No. 443/Kep.371-Huk/2021 tentang penetapan lokus pembinaan  desa/kelurahan bebas tuberkulosis dan bebas jentik aedes di Kabupaten Pandeglang, dan dalam rangka mengantisipasi terjadinya peningkatan kasus DBD di masyarakat Pemkab Pandeglang melalui Dinas Kesehatan melakukan rapat koordinasi dengan lintas sektor, dengan tujuan meningkatkan upaya penggerakan masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN), meningkatkan surveilans kasus dan surveilans faktor resiko terhadap kejadian DBD melalui kegiatan pemantauan jentik, mengaktifkan kembali kelompok kerja penanggulangan DBD pada berbagai tingkatan RT/RW, desa/Kelurahan, kecamatan dan Kabupaten. peserta rapat koordinasi adalah Kepala Desa/ Lurah, karang Tarauna,

Pada pertemuan tersebut Kepala Dinas Kesehatan Hj. Raden Dewi setiani, Amd.Keb, S. Sos, MA menyampaikan bahwa untuk mencegah terjadinya peningkatan kasus DBD di Kabupaten Pandeglang tidak bisa diserahkan kepada Pemerintah daerah  saja tapi kita semua harus bersama sama melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk, memantau jentik, gotong royong membersihkan lingkungan sekitar. Lebih lanjut kepala dinas menghimbauan kepada peserta untuk disampaikan kepada masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan sekitar tidak membiarkan adanya genangan air atau membuang sampah sembarangan agar kesehatan lingkungan tetap terjaga dengan baik.

Kepala bidang P2 H. Samsudin, S.Kep, MM dalam paparannya menyampaikan pula bahwa “untuk mencegah kasus DBD sangat efektif adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus yaitu ; menguras, menutup, mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penular Demam Berdarah. Sedangkan Plus nya adalah menabur bubuk larvasida ditempat penampungan air, menggunakan kelambu saat tidur,  memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk,  menghindari kebiasaan  menggantung pakaian dan menggunakan anti nyamuk semprot atau oles”, jadi lebih efektif PSN karena akan membasmi telur nyamuk sementara kalau fogging hanya nyamuk dewasa saja yang mati, imbuhnya.

Leave a Reply