Generasi penerus bangsa harus sehat, cerdas, kreatif dan produktif. terlahir sehat, tumbuh dengan baik dan didukung oleh pendidikan yang berkualitas.

Kekerdilan (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak Balita sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya, ini terjadi karena kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia 2 tahun.

Pencegahan anak kerdil (stunting) perlu koordinasi antar sektor dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti Pemerintah, Pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat umum dan lainnya.

Berdasarkan dokumen “Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting” yang disusun sebagai panduan untuk mendorong kerja sama antar lembaga untuk memastikan konvergensi seluruh program/kegiatan terkait pencegahan stunting. Utamanya untuk meningkatkan cakupan dan kualitas intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif pada kelompok ibu hamil, ibu menyusui, anak usia 0-23 bulan atau rumah tangga 1000 hari pertama kehidupan.

Intervensi spesifik merupakan kegiatan yang langsung mengatasi penyebab terjadinya stunting dan umumnya diberikan oleh sektor kesehatan seperti asupan makanan, pencegahan infeksi, status gizi ibu, penyakit menular dan kesehatan lingkungan.

Kepala Dinas Kesehatan Hj. Raden Dewi setiani,Amd.Keb,S.sos,MA mengatakan bahwa  Dinas Kesehatan melalui intervensi gizi spesifik dalam penurunan stunting telah melakukan langkah langkah :

– Pendataan kelompok sasaran (ibu hamil, ibu menyusui, remaja putri, WUS, anak usia 24-59   bulan)

– Melakukan intervensi prioritas (Pemberian makanan tambahan ibu hamil, suplementasi tablet tambah darah, pemberian makanan tambahan bagi anak kurus, tatalaksana gizi buruk, pemantauan dan promosi edukasi).

– Melakukan intervensi pendukung ( pemeriksaan kehamilan, suplementasi Vitamin A, imunisasi, MTBS, suplementasi zinc untuk pengobatan diare, suplementasi kalsium), dan

– Melakukan intervensi prioritas sesuai kondisi tertentu (perlindungan dari malaria, pencegahan HIV, pencegahan kecacingan).

Lebih lanjut  Hj. Raden Dewi setiani mengatakan bahwa  Dinas Kesehatan melalui Puskesmas melaksanakan  Posyandu setiap bulan rutin untuk memantau status gizi bayi balita, pemantauan tumbuh kembang, pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan kehamilan, imunisasi, edukasi dan promosi kesehatan, dan pelayanan kesehatan lainnya.

Pada kesempatan lain sekertaris Dinas Kesehatan Hj. Eniyati,S.Tr.Keb, SKM, M.Kes menyampaikan bahwa

Prevalensi Stunting Kabupaten Pandeglang

  • Berdasarkan RISKESDAS 2018: 39,5%
  • SSGI (Studi Status Gizi Indonesia) 2019: 34,01%
  • SSGI (Studi Status Gizi Indonesia) 2021: 37,8%
  • EPPGBM (Elektronik Pemantauan Pertumbuhan Gizi Berbasis Masyarakat) tahun 2020: 21,2%
  • EPPGBM tahun 2021: 13,7%
  • EPPGBM tahun 2022: 11,5%

Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang bersama puskesmas terus berupaya menyusun strategi dalam percepatan penurunan stunting diantaranya melalui inovasi kegiatan :

  1. PANGLING: Pandeglang Peduli Stunting
  • SARITA: Selasa Berseri Tanpa Anemia

Gerakan setiap hari Selasa di setiap sekolah SMP, SMA dan sederajat remaja putri minum TTD setelah sarapan, kemudian ada pemberian edukasi

  • SARITA SANTIK: Selasa Berseri Tanpa Anemia Bersama Santriwati Cantik

Kegiatannya sama dengan SARITA hanya sasrannya adalah remaja putri yang ada di pondok pesantren baik modern maupun salafiah (Ponpes terpilih: Kecamatan Majasari, Menes dan Labuan)

  1. SEUPAN CAU: Sehat Untuk Pandeglang Cegah Kematian Anak dan Ibu (Dinkes)
  • RABU UNTUK IBU (setiap hari rabu bidan desa mengunjung ibu hamil)
  • BERKAH: Bersalin Kuat Aman Hidup
  • AKSI EMAK CERDIK: Aksi Edukasi Masyarakat CERDIK, kegiatannya senam bersama dan ada pemeriksaan kesehatan (TD, pemeriksaan gula darah, kolesterol dll).

Leave a Reply